Kata Kita
SELAMAT DATANG DI BLOG KITA, TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Sabtu, 22 September 2012
Jumat, 21 September 2012
MENGETUK PINTU SURGA
Apabila
kita menyimpulkan dengan pikiran dan kejernihan hati, maka kita dapat
mengatakan bahwa tujuan yang utama dari seluruh ibadah kita akan mengarah
kepada pengetahuan tentang Allah serta mengenal hakikat perkara perkara haq.
Namun Pengetahuan (
ilmu ) itu tidak akan dapat diperoleh selama manusia tidak menyadari akan
kelemahannya, artinya manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah
yang lemah dan tida daya serta kekuatan apapun kecuali dari Allah SWT.
.

Keberuntungan
hanya dapat diraih manakala manusia dapat melawan hawa nafsunya yakni dengan
cara Mujahadah Nafsiyah, sebagaimana
firman Allah yang artinya
“Dan
orang-orang yang mencegah jiwa dari hawa nafsunya, maka baginya surga sebagai
tempat kembali “ (QS: An-Naazi’at 40-41)
Diantara yang termasuk
Mujahadah itu adalah dzikir dan puasa.
Hendaklah membiasakan untuk mengosongkan perut agar hati menjadi jernih,
karena perut yang terlalu kenyang akan menjadikan hawa nafsu dan syahwat
menjadi kuat, sehingga dapat menimbulkan maksiat lahir dan bathin dan pada
gilirannya nanti dapat menyebabkan hati menjadi keras. Rasulullah saw bersabda “ Barang siapa yang
perutnya selalu kenyang dan banyak tidur, maka akan keras hatinya “.
Syekh
Syaqiq al-Balkhi mengatakan bahwa ibadah itu merupakan sebuah pekerjaan,
tokonya adalah berkholwat dan peralatannya adalah lapar. Hati yang keras akan dapat menghalangi
nikmatnya berdzikrullah. Walaupun
lisannya banyak berdzikir namun hati tidak mendapatkan pengaruh apa-apa,
seakan-akan dihatinya ada suatu penghalang.
Sebaliknya hati yang lembut karena sering berpuasa akan mudah untuk
merasakan nikmatnya dzikir.
Ar-Rayyan adalah sebuah
pintu dari salah satu pintu-pintu di surga, untuk masuknya ahli puasa. Membiasakan lapar (puasa) berarti mengetuk
pintu surge itu. Sayyidah ‘Aisyah
berkata, “ aku pernah mendengar Rasulullah bersabda : “ Biasakanlah
mengetuk pintu surga maka tentu dibukakan untukmu”. Aku bertanya, bagaimana kami dapat
membiasakan mengetuk pintu surga..??? Beliau lalu bersabda “ Dengan
lapar dan haus (puasa) “

Di kutip dari Majalah Mahkota Shufi
MIMPI ( Bertemu Ruh Samawi )
Shufi yang telah membersihkan hatinya , biasanya akan mengalami atau mendapat isyarat-isyarat ruhaniyah dikala ia tidur (bukan sengaja tidur), yang sifatnya akan lebih tinggi sesuai dengan semakin tingginya derajat ruhaniyah, sehingga disaat seorang shufi sudah mencapai puncak kondisi rohani, isyarat-isyarat yang datang kepadanya bersifat samar dan indah.
Isyarat-isyarat yang hadir itu dapat diartikan seperti isyarat-isyarat saat melihat dalam mimpi (arru’ya) yang memberikan makna hakikat dan mempunyai manfaat baik untuk diri shufi itu sendiri maupun orang lain.

Bagi seorang yang baru saja memasuki dunia keshufian yakni bagi muridin, isyarat mimpi yang datang terkadang masih sulit bagi mereka untuk memahaminya karena kebanyakan isyarat (mimpi) itu diluar ungkapan yang jelas dan terang.
Menurut ulama tasawuf, sesuatu itu dinamakan isyarat apabila hanya dapat dipahami oleh dua orang atau lebih yang merupakan rahasia. Tentu saja isyarat-isyarat tersebut tidak akan dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang memiliki faham atau berhati sama yang mengerti betul tentang apa yang dilakukan dan dialami oleh shufi.
Kemudian oleh para ulama tasawuf, isyarat-isyarat dalam mimpi ini lalu dikupas dalam disiplin ilmu tersendiri. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa isyarat mimpi untuk agama (ad-din) itu berupa suatu yang terikat (al-qoidu) sedangkan ilmu yang memiliki isyarat batu bata (al-lubna). Manusia memiliki isyarat pohon kurma (an-nakhlah) atau tiang yang lurus (al-amud) dan sebagainya.

Ilmu tentang mimpi itu ternyata dapat dibenarkan serta mempunyai dasar pembahasan yang kuat menurut agama Islam, sebagaimana firman Allah yang mempunyai arti :
“ Dan begitulah Kami tempatkan Yusuf diatas bumi, lalu Kami mengajarkannya bagaimana caranya menta’wilkan mimpi “ (QS Yusuf:21) “
Sebenarnya mimpi yang benar adalah bagian dari pada kenabian, karena mimpi yang benar (ar-ru’ya fil manan) seorang Nabi merupakan kebenaran dari Allah, lantas para Nabi tersebut mengetahui maksud dari mimpinya. Sebagaimana Rosululloh SAW bersabda :” Mimpi seorang Nabi adalah wahyu “. Dan sabda beliau yang lain “ Barang siapa yang tidak percaya dengan mimpi yang benar, berarti ia tidak percaya dengan Allah dan hari akhir “
Menurut Rosulullah saw, mimpi itu terbagi menjadi tiga jenis :
1. Mimpi yang baik dan benar dari Allah
2. Mimpi buruk dari setan
3. Mimpi yamg mungkin benar atau mungkin salah dari jiwa manusia itu sendiri
Ketiga mimpi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
I. Mimpi yang baik (ru’yah shalihah) dan mimpi yang benar (ru’ya shahihah) dari Allah, dapat terjadi dalam bentuk mimpi yang dapat benar-benar menjadi kenyataan persisi seperti itu, sehingga memerlukan tafsir maupun ta’wil atau bias juga mimpi yang masih samar yang mengandung hikmah namun masih membutuhkan ta’wil. Mimpi yang benar-benar akan menjadi kenyataan (ru’ya shadiqah muhaqqiqah) adalah bagian daripada wahyu kenabian, dan ini pernah dialami oleh Rosulullah SAW.
“ Sungguh Allah akan membuktikan kepada rosulnya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya, yaitu bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedangkan kamu tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat “ (QS:Al-Fath 27)
Mimpi yang begini ini juga pernah dialami oleh Nabi Ibrahim AS , ketika diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya Ismail As. Sebagaiman Firman Allah :
“ Ibrahim berkata kepada putranya Ismail : Wahai anakku sungguh aku melihat didalam mimpiku aku menyembelihmu, bagaimana menurut kamu. Ismail lalu menjawab : Wahai ayahku, lakukanlah mimpimu yang diperintahkan itu “
Sedangkan mimpi yang samar dan masih memerlukan penafsiran seperti mimpinya Nabi Yusuf AS : “ Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang dan matahari serta bulan, dimana aku telah melihatnya semuanya itu sujud kepadaku (QS: Yusuf 43)
II. Mimpi dari Setan
Merupakan mimpi yang tidak benar dimana seorang yang bermimpi tidak dapat memahami bagian-bagian dari mimpi yang dilihatnya dan tidak dapat mengingatnya sesuai dengan tertib kejadian didalam mimpinya
Biasanya mimpi yang seperti ini tidak teratur kejadiannya dan maknanya tidak terdapat di dalam ushul atau dasar penta’wilan sebuah mimpi. Mimpi seperti ini adalah mimpi batil dan tidak mengandung pelajaran, karena mimpi seperti ini berasal dari setan.
Mimpi yang dari setan ini diantaranya adalah mimpi dalam keadaan glamour dan persetubuhan, mimpi ketakutan, keterkejutan, iri dan dengki serta mimpi tabiat kotor karena pengaruh godaan atau was-was atau mimpi mengalami pengalaman yang telah sangat jauh di masa lampau.
Jika bermimpi dari setan, Rasulullah menganjurkan agar menyimpan dan merahasiakan lalu memohonlah perlindungan dari keburukan mimpi itu kepada Allah SWT sebagaimana sabda beliau :
“ Barang siapa yang bermimpi buruk, maka meludahlah (walaupun tanpa air ludah) kesebelah kirinya sebanyak tiga kali dan bacakan bacaan ta’awwudz (perlindungan) pada Allah dari gangguan setan, maka dengan bacaan itu tidak akan memberikan keburukan pada orang yang bermimpi “
III. Mimpi Dari Jiwa
Mimpi ini mungkin benar dan mungkin salah karena mimpi begini merupakan refleksi daripada pikiran seseorang atau perbuatannya serta perilaku akhlaknya sewaktu ia dalam keadaan tidak tidur (sadar)
Pikiran dan perbuatan saat tidak tidur dapat direfleksikan tatkala seseorang sedang tidur melalui ruh samawi. Biasanya mimpi ini mengandung dua makna yang terkadang bertentangan atau berbeda, dimana seseorang yang bermimpi dapat langsung mengingat kejadiannya serta dapat langsung memahami bagian-bagian dari mimpinya tersebut.
Lantas ia dapat menta’wilkan kepada kejadian yang lebih utama atau lebih dekat terhadap dasar-dasar tafsiran sebuah mimpi. Penta’wilan semacam ini dikarenakan mimpi ini merupakan penglihatan seorang yang bermimpi terhadap kehidupan kesehariaanya atau timbul dari akal bathinnya.
Sehingga mimpi yang begini harus ditafsirkan menurut situasi dan kondisi yang sedang dialami oleh orang yang bermimpi itu sendiri.
Menurut Syekh at- Tustari, sesungguhnya mimpi ini bagiakan suatu was-was, yaitu bahwa mimpi selalu berbeda beda pada masing- masing orang dan bisa saja mimpi di saat tidur itu lebih benar kejadiannya dari pada apa yang dialami orang ketika dalam keadaan sadar dikarenakan indra lahiriyahnya sibuk dengan berbagai persoalan.
Dikutip dari majalah Mahkota sHufi th 2006
Rabu, 04 Januari 2012
Langganan:
Komentar (Atom)